kanaka.store ; Menyita Ponsel Anak bukan Solusi Terbaik Cyberbullying


Banyak remaja di berbagai belahan dunia bunuh diri akibat cyberbullying

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Banyak remaja di berbagai belahan dunia bunuh diri akibat mengalami perundungan di dunia maya (cyberbullying) terutama di media sosial (medsos). Di Australia, angka bunuh diri remaja sudah mencapai statistik tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Satu dari 10 gadis remaja berusia 14-15 tahun di Australia melukai diri sendiri dalam setahun terakhir. Banyak orang menyebut ponsel pintar (smartphone), intimidasi siber, dan medsos penyebab utamanya. Krisis ini harus diatasi, namun orang tua perlu berhati-hati sebelum menyalahkan semuanya pada teknologi.

Remaja selalu menjadi kelompok rentan. Bunuh diri biasanya diawali dengan kecemasan tinggi dan depresi. Mereka merasa cemas dan depresi karena kurang tidur, tuntutan terus berprestasi di sekolah, tekanan ekonomi, masalah keluarga, trauma, atau kehilangan teman.

Faktor lainnya adalah penyimpangan seksual, penyalahgunaan narkoba, pelecehan seksual, kurangnya dukungan keluarga, dan riwayat bunuh diri di keluarga. Sebelum orang tua terburu-buru menyimpulkan ponsel adalah penyebab utama bunuh diri pada remaja, kita perlu berpikir luas.

“Orang tua atau wali murid memiliki peran terbesar. Sangat penting menjalin hubungan positif dengan anak, menetapkan batas-batas jelas dan menanamkan nilai-nilai prososial,” kata Manajer The National Center Against Bullying (NCAB) di Alannah & Madeline Foundation, Sandra Craig, dilansir Kidspot, Senin (29/4).

Sekolah adalah pihak kedua yang berperan kuat dan suportif. Guru guru dengan siswa danĀ  sesama siswa bisa memberi perlindungan bagi anak-anak yang hidup di lingkungan keluarga bermasalah. Sekolah, kata Craig, harus menjadi tempat aman secara psikologis dan fisik di mana ada kebijakan dan pedoman jelas tentang intimidasi dan perundungan terhadap siswa.

“Sekolah perlu pendekatan positif untuk pendidikan dan manajemen perilaku siswanya,” kata Craig. Orang dewasa sangat mudah menyepelekan masalah remaja. Padahal bagi remaja, masalah mereka itu sangat besar.

Kita perlu mengakui masalah mereka, bukan memaksakan realitas kita sendiri. Jika kita ingin remaja terbuka pada kita, kita perlu menjelaskan bahwa kita berada di pihak mereka dan ingin membantu. “Cobalah belajar mendengarkan alih-alih menyepelekan masalah mereka,” kata Craig.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *