kanaka.store ; Kapan Anak Boleh Punya Gawai Sendiri?


Belum ada regulasi yang mengatur kapan anak boleh punya gawai sendiri

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON — Perbincangan mengenai pada usia berapa anak mulai aman menggunakan gawai (gadget) terus berkembang di tengah masyarakat. Apalagi, hingga saat ini belum ada regulasi yang mengatur tentang hal tersebut.

Founder dan trainer Socio Learning, Shanti Maya, menjelaskan pembahasan mengenai penggunaan gawai tak bisa dilepaskan dengan tugas perkembangan anak untuk setiap tahapan usianya. Untuk tahap 0-6 tahun, tugas perkembangan anak di antaranya meliputi belajar kemampuan motorik dan bahasa.

Tahap selanjutnya adalah 6-12 tahun. Di tahap ini perkembangan anak antara lain meliputi cara bersosialisasi, mulai menjalankan peran sesuai jenis kelaminnya, dan mulai memahami hal yang baik dan buruk.

Pada tahap usia 12-21 tahun, lanjut Shanti, pemikiran anak sudah mandiri dan sudah mengetahui dengan pasti mengenai hal yang baik dan buruk. Sedangkan pada usia 21 tahun ke atas, seseorang dinyatakan telah dewasa.

“Jadi anak baru boleh memiliki gawai sendiri saat usianya sudah 12 tahun ke atas karena anak sudah bisa memahami baik dan buruk,” kata Shanti, saat menjadi pembicara dalam acara Kelas Literasi Digital Sisternet bertema Kapan Anak Boleh Punya Gadget Sendiri? di Kota Cirebon akhir pekan lalu.

Meski demikian, Shanti menegaskan anak-anak di bawah usia 12 tahun tetap boleh menggunakan gawai. Tetapi penggunaannya harus didampingi dari orang tua. Anak pun harus dikontrol dan tidak boleh dibiarkan bebas menggunakan gawai semaunya.

“Harus ada negosiasi dan kesepakatan antara anak dengan orang tuanya bahwa mereka hanya boleh menggunakan gawai selama satu sampai dua jam saja,” tukas Shanti.

Dengan negosiasi itu, anak akan belajar untuk bertanggung jawab mematuhi kesepakatan yang telah mereka buat sendiri. Begitupula dengan orang tua yang sebaiknya tidak mengganggu interaksi sang anak dengan gawainya pada waktu yang telah disepakati. Meski demikian, orang tua harus tetap memastikan konten yang ditonton anak-anak hanyalah hal yang positif.

Shanti menambahkan kesepakatan pembatasan waktu penggunaan gawai tersebut sangat penting. Gunanya adalah untuk menghindarkan anak dari ketergantungan pada gawai. Ketergantungan pada gawai membuat anak menjadi emosional dan minim budi pekerti. “Secara fisik, anak juga akan mengalami kegemukan karena kurang beraktivitas di luar,” tutur Shanti.

Dampak buruk lain, anak akan lamban dalam berpikir. Keterampilan motoriknya juga kurang berkembang karena hanya jarinya yang bergerak saat menggunakan gawai.

Dalam kesempatan yang sama, founder Belantara Budaya Indonesia, Diah Kusumawardhani, juga berbagi kiat menjauhkan anak dari ketergantungan pada gawai. Ia nmengungkapkan untuk menghindari ketergantungan maka harus ada kegiatan yang mampu mengalihkan perhatian anak dari gawai.

Salah satunya dengan belajar menari. “Di tempat menari, anak-anak akan beraktivitas secara fisik, berinteraksi dengan teman-temannya, dan itu tanpa menggunakan ponsel,” tukas Diah.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *