kanaka.store ; Main Gim Bisa Ganggu Keterampilan Sosial Anak Perempuan


Intensitas main gim memengaruhi ketrampilan sosial anak perempuan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meningkatnya popularitas video gim dalam beberapa tahun terakhir telah menimbulkan pertanyaan di kalangan orang tua, dokter, hingga pendidik tentang potensi dampak negatifnya. Banyak penelitian berfokus pada anak-anak yang menghabiskan terlalu banyak waktu bermain gim atau menyukai game yang bernuansa kekerasan.

Tetapi sebuah studi dari Child Development mencoba mengikuti 873 anak-anak sekolah Norwegia selama enam tahun. Pengamatan dimulai ketika mereka berusia enam tahun. Hasilnya, ada kecenderungan intensitas bermain gim memengaruhi keterampilan sosial anak perempuan tetapi tidak untuk anak laki-laki.

Setiap dua tahun, orang tua atau anak-anak melaporkan berapa banyak waktu yang dihabiskan anak-anak untuk bermain gim. Guru juga mengevaluasi kompetensi sosial anak-anak. Kompetensi ini didasarkan seberapa baik mereka mengikuti arahan, mengendalikan perilaku, dan menunjukkan kepercayaan diri dalam lingkungan sosial.

Para peneliti memperhitungkan faktor-faktor yang secara independen dapat mempengaruhi keterampilan sosial. Antara lain seperti kelebihan berat badan atau obesitas berasal dari rumah tangga berpenghasilan rendah di mana orang tua memiliki pendidikan yang lebih rendah. Hasilnya, peneliti tidak menemukan hubungan antara permainan yang dihabiskan dengan waktu dan keterampilan sosial untuk anak laki-laki.

Tetapi untuk anak laki-laki dan perempuan, telah terjadi kompetensi sosial yang buruk pada usia 8 dan 10 tahun. Sebabnya adalah banyaknya waktu yang dihabiskan untuk bermain gim dua tahun kemudian. Anak perempuan yang menghabiskan lebih banyak waktu bermain gim pada usia 10 menunjukkan keterampilan sosial yang lebih buruk dua tahun kemudian. Ketrampila sosial mereka lebih buruk daripada anak perempuan yang lebih sedikit menghabiskan waktu untuk bermain video gim.

“Keterampilan sosial yang lebih buruk terjadi pada anak perempuan dan tidak untuk anak laki-laki,” kata pemimpin studi Beate Hygen dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia di Trondheim dilansir Reuters.

Kesenjangan gender mungkin ada hubungannya dengan perbedaan dalam cara anak perempuan dan anak laki-laki bermain dan bagaimana mereka bersosialisasi. Anak laki-laki menghabiskan lebih banyak waktu bermain gim secara keseluruhan. Mereka juga cenderung berkumpul dalam kelompok untuk bermain.

Sebaliknya, anak perempuan cenderung bermain gim sendirian. Pada usia enam tahun, anak laki-laki bermain selama sekitar setengah jam setiap hari, dibandingkan dengan sekitar 15 menit untuk anak perempuan.

Pada usia 12 tahun, anak laki-laki bermain rata-rata lebih dari dua jam setiap hari sedangkan dengan anak perempuan yaitu kurang dari jam. Studi ini tidak dirancang untuk membuktikan bagaimana gim dapat secara langsung memengaruhi perkembangan sosial.

Mungkin saja anak-anak dengan gangguan keterampilan sosial tertarik pada gim karena mereka tidak memerlukan interaksi tatap muka. “Anak-anak dan remaja yang lebih tua dan memiliki lebih banyak kesulitan dalam berinteraksi mungkin lebih tertarik pada aktivitas daring dibandingkan dengan teman sebayanya yang lebih kompeten secara sosial,” kata Suzy Tomopoulos dari Fakultas Kedokteran New York University.

“Anak-anak daring mungkin merasa ‘lebih aman’ daripada interaksi peer to peer,” kata Tomopoulos, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. Belum lama ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengeluarkan pedoman yang mendorong semua bentuk waktu layar atau gawai untuk anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Balita dibatasi menatap layar maksimal satu jam per hari dan mencegah paparan layar untuk anak-anak di bawah satu tahun.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *