kanaka.store ; Ini Alasan Orangtua Harus Bangun Komunikasi dengan Anak


Percakapan dua arah dengan anak-anak membantu mereka kembangan kemampuan bahasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bayi tentu saja belum bisa berbicara seperti manusia yang sudah mengembangkan bahasa. Namun, bukan berarti orang tua tidak perlu mengajak bayi berbicara dan membiarkan begitu saja.

Berbicara dengan bayi sama pentingnya ketika mereka sudah tumbuh besar dan dapat berbicara. Penelitian baru yang diterbitkan awal bulan ini di The Journal of Neuroscience menyatakan, mengajak berbicara bayi akan mendorong kemampuan mereka untuk berbahasa.

Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology, University of Pennsylvania, dan Harvard menemukan, percakapan dua arah dengan anak-anak membantu mereka mengembangkan kemampuan bahasa dan pemahaman yang lebih baik. Kelebihan itu terlepas dari status sosial ekonomi keluarga di mana bayi dilahirkan.

“Kami menemukan komponen yang paling relevan dari paparan bahasa anak-anak bukanlah jumlah kata-kata yang mereka dengar, namun, jumlah percakapan orang dewasa dan yang mereka alami,” ujar pemimpin penulis studi Rachel Romeo, PhD, dikutip dari healthline, Selasa (28/8).

Para peneliti merekrut 40 anak dengan rentang usia 4 hingga 6 tahun beserta orang tua mereka. Peserta yang dilibatkan dari beragam latar belakang, situasi keuangan, dan tingkat pendidikan orang tua. Penelitian ini mencoba merekam percakapan mereka selama dua hari.

Peneliti mempelajari jumlah kata-kata yang didengar oleh orang dewasa, berapa banyak kata yang diucapkan anak-anak, dan jumlah giliran yang mereka ambil dalam percakapan orang dewasa dan anak-anak. Mereka kemudian mengambil MRI dari anak-anak untuk memeriksa jalur otaknya.

Anak-anak yang terlibat dalam percakapan lebih banyak dengan orang dewasa memiliki koneksi yang lebih kuat di area Wernicke dan area Broca. Area pada wilayah otak tersebut bertanggung jawab untuk pemahaman dan produksi ucapan. Hal ini memberikan penjelasan mengapa bayi yang belum bisa berbicara bisa mengembangkan bahasa mereka ketika tumbuh dewasa.

Penelitian sebelumnya menunjukkan ada hubungan kuat antara status sosial ekonomi dan perkembangan otak anak-anak. Pada tahun 1995, sebuah penelitian menemukan  anak-anak dari keluarga yang lebih kaya terpapar sekitar 30 juta lebih banyak kata dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah.

Menanggapi penelitian itu, banyak peneliti mengklaim  mengurangi “celah kata” ini bisa menjadi kunci untuk menutup kesenjangan kekayaan di seluruh dunia. Sejak itu, banyak ilmuwan telah mempelajari bagaimana, tepatnya, memaparkan anak-anak pada lebih banyak kata dapat menutup kesenjangan prestasi pada anak-anak.

Hal menarik, penelitian baru yang dilakukan penelitian postdoctoral rekan di Rumah Sakit Anak Boston dan Massachusetts Institute of Technology dan timnya mengungkapkan situasi keuangan keluarga tidak ada hubungannya dengan kemampuan verbal dan kognitif seorang anak.

“Tidak hanya koneksi otak yang lebih kuat yang terlihat, namun, di samping itu, penelitian ini adalah yang pertama dari jenisnya untuk menemukan temuan positif ini tidak terkait dengan status sosial ekonomi rumah tangga anak,” ujar dokter anak berlatih dan asisten profesor di Stony Brook School of Medicine Dr. Jill Creighton.

Creighton  menambahkan, anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung memiliki manfaat yang sama dari paparan bahasa. Melalui temuan ini menunjukkan program intervensi dini yang dirancang untuk menutup kesenjangan pencapaian harus fokus pada peningkatan paparan percakapan anak-anak pada usia dini.

Para peneliti pun menyatakan, sangat penting untuk tidak hanya berbicara dengan anak-anak, namun, membangun percakapan dengan mereka. Karena ketika berbicara dengan anak-anak dapat membantu membangun kosakata yang kaya, melakukan percakapan yang dinamis dengan mereka dapat mengajarkan mereka pentingnya mendengarkan dan mengambil giliran untuk berbicara.

“Tindakan ‘mengambil-giliran ’adalah salah satu komponen paling mendasar dari komunikasi manusia. Saat Anda memecah percakapan, itu adalah tindakan mengirim pesan ke orang lain, penerimaan pesan itu, dan kembalinya pesan,” kata ahli bahasa bicara anak dan pendiri Strength in Words Ayelet Marinovich.

Marinovich menjelaskan, pola mengambil dan giliran ini dapat menyiapkan anak untuk sukses, terutama ketika menyangkut pembangunan sosial dan emosional jangka panjang. Anak-anak kecil belajar melalui observasi, interaksi, dan peniruan, dan mengambil giliran dalam percakapan memberi mereka semua ini.

Saran Marinovich, ketika mengobrol dengan anak, sebaiknya berhenti sejenak setelah berbicara atau mengajukan pertanyaan untuk memberi anak kesempatan untuk merespons. Selain itu, jadilah suportif dan dorong anak untuk berpartisipasi dalam percakapan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *