kanaka.store ; Lingkungan Kerja Buruk Pengaruhi Gaya Pengasuhan Ibu


Lingkungan kerja buruk membuat ibu menjadi sosok otoriter

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Anak-anak bisa menjadi korban tak diinginkan dari ibu yang bekerja di lingkungan kerja buruk. Wanita yang menghadapi rekan-rekan kerja kasar atau tidak ramah misalnya, secara negatif bisa memengaruhi pengasuhan anak-anak mereka di rumah.

Beberapa contoh kondisi lingkungan kerja buruk yang dirasakan ibu, antara lain perilaku dan perkataan kasar dari rekan kerja, bos yang tidak sopan, melanggar norma, atau tidak ada rasa hormat antara sesama karyawan di kantor. Peneliti dari Cerleton University, Kanada, Kathryne Dupre mengatakan timnya melibatkan 146 ribu ibu yang bekerja.

Ibu yang disurvei secara daring (online) ini ditanyai tentang pengalaman mereka di tempat kerja, kemudian dikaitkan dengan efektivitas pengasuhan mereka sebagai orang tua di rumah. Pasangan atau ayah diminta melaporkan bentuk-bentuk pengasuhan negatif yang mungkin saja dilakukan istrinya di rumah, misalnya istri cenderung otoriter, atau istri cenderung permisif terhadap anak.

Peneliti menemukan hubungan signifikan antara ibu dengan lingkungan kerja buruk dengan sikap otoriter di rumah. Hasil survei menunjukkan ketidaknyamanan dan ketidaksopanan di tempat kerja yang diterima si ibu membuat mereka kurang efektif menjadi orang tua di rumah.

“Ibu menjadi sosok otoriter yang berharap tinggi pada anak-anak dengan menerapkan serangkaian peraturan yang harus dipatuhi tanpa terkecuali. Pada saat yang sama, ibu tipe ini juga kasar dalam menerapkan hukuman pada anak,” kata Dupre, dilansir dari Mid Day, Rabu (22/8).

Ibu yang menerima perlakuan kasar atau tidak sopan di tempat kerja menjadi ibu yang cenderung mengatur hingga ke hal-hal kecil di setiap aspek kehidupan anaknya. Mereka menilai disiplin lebih menyenangkan.

“Padahal, pola asuh otoriter dalam berbagai penelitian lebih menunjukkan gaya pengasuhan negatif,” kata Dupre.

Gaya pengasuhan otoriter tidak menggunakan cinta. Anak-anak cenderung tumbuh agresif di luar rumah, mudah takut atau malu, sulit berinteraksi sosial karena kurangnya kompetensi sosial, mudah depresi, mudah cemas, dan susah mengendalikan diri.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *