kanaka.store ; Orang Tua Perlu Tegas Batasi Anak Main Gawai Demi Kesehatan


Rata-rata anak menghabiskan tujuh jam per hari menatap layar gawai.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Pakar kesehatan mengingatkan kembali pentingnya membatasi waktu anak bermain gawai. Berdasarkan data American Heart Association (AHA), rata-rata anak berusia delapan hingga 18 tahun menghabiskan waktu tujuh jam per hari menatap layar gawai.

Menurut AHA, durasi tersebut terlalu lama dan menyarankan agar orang tua lebih disiplin membatasinya. AHA merekomendasikan maksimal dua jam per hari bagi anak untuk bermain gawai. Sedangkan anak yang berusia dua hingga lima tahun hanya boleh mengakses gawai satu jam per hari.

Sejauh ini memang belum ada bukti hubungan antara lama bermain gawai dengan risiko penyakit jantung. Akan tetapi, riset menemukan adanya kebiasaan tidak sehat akibat kegemaran anak-anak dan remaja bermain gawai. Ketika bermain gawai, anak-anak dan remaja biasanya dibarengi dengan ngemil yang tidak sehat.

“Ketika menatap layar mereka juga mengemil. Karena konsentrasi terpecah mereka tidak menyadari betapa banyak camilan tak sehat yang dikonsumsi dan lupa berhenti,” jelas ahli kardiologi dr. Tara Narula dalam program CBS This Morning. Jika tak dihentikan, mereka punya risiko tinggi terkena penyakit kardiovaskular, kolesterol, dan obesitas.

Selama memainkan gawai, anak-anak juga rentan terpapar iklan makanan-makanan yang tidak sehat. Selain itu, cahaya biru yang dipancarkan gawai akan mengganggu kualitas tidur mereka.

Membatasi waktu bermain gawai pada anak-anak dan remaja memang hal yang sulit. Apalagi, keberadaan media sosial dan aneka gim membuat mereka betah berlama-lama menatap layar. Namun, orang tua juga harus tegas dan disiplin demi masa depan buah hatinya.

“Gawai tak selamanya buruk. Di sana kita bisa memperoleh wawasan dan ide-ide baru, mengetahui isu terkini, bahkan mengakses informasi kesehatan. Poin pentingnya adalah orang tua harus bertindak sebagai ‘media mentor’. Gawai boleh digunakan tapi dengan cara-cara yang sehat,” kata Narula.

Ia meminta agar para orang tua mendorong anak-anaknya lebih sering bermain di luar ruangan dan bertemu banyak orang. Orang tua juga perlu menerapkan apa yang disebut dengan zona bebas gawai. Tak ada salahnya melarang penggunaan gawai di meja makan dan kamar tidur.

Jangan lupa, perilaku anak-anak adalah duplikasi dari perilaku orang tua. Oleh karena itu ayah dan ibu jangan hanya memberi perintah ini itu kepada anak. Berikan teladan pada anak tentang kapan dan bagaimana seharusnya menggunakan gawai. “Letakkan ponsel dan tablet anda ketika berinteraksi dengan anak-anak. Mereka benar-benar menirukan apa yang orang tuanya lakukan,” ungkap Narula.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *