kanaka.store – Starbucks Tutup Ribuan Gerai untuk Pelatihan Antirasisme


Insiden pengusiran pengunjung berkulit hitam memicu pelatihan antirasisme.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Gerai kopi Starbucks telah menutup lebih dari 8.000 toko di Amerika Serikat (AS) untuk melatih 175 ribu karyawannya terkait diskriminasi ras atau antirasisme. Dilansir Aljazirah, Rabu (30/5), langkah itu dilakukan setelah penangkapan terhadap dua pria kulit hitam di Starbucks Philadelphia, yang memicu kemarahan, protes dan seruan boikot.

“Pelatihan anti-bias tidak mencakup seluruh lingkup kerumitan ketika berhadapan dengan supremasi kulit putih,” kata salah seorang warga menanggapi pelatihan ini. Menurut pengamat, pelatihan harus dilakukan dengan tolok ukur yang jelas.

Perusahaan yang memiliki 25 ribu kedai kopi di 70 negara ini berjanji untuk mengintegrasikan pelatihan lebih lanjut di AS dan di seluruh dunia. “Kami menyadari bahwa empat jam pelatihan tidak akan memecahkan diskriminasi ras di Amerika atau siapa pun yang datang ke toko kami yang mungkin memiliki masalah. Tapi kita harus memulai,” kata Ketua Eksekutif Starbucks Howard Schultz dalam wawancara dengan CNN.

Karyawan Starbucks yang menerima pelatihan menonton film dari pembuat film dokumenter Stanley Nelson tentang sejarah Afrika-Amerika dan perjuangan hak-hak sipil. Setelah itu mereka diminta untuk menceritakan pengalaman mereka sendiri tentang diskriminasi rasial.

Kurikulum, yang akan tersedia di kemudian hari, disusun dengan berkonsultasi dengan mantan jaksa Presiden AS Barack Obama, Eric Holder, dan pengacara hak-hak sipil Bryan Stevenson.

Pelatihan ini menuai berbagai reaksi. Khususnya dari para pejabat dan aktivis kulit hitam.

“Ini adalah sesuatu yang diperlukan dan ini adalah tempat yang baik untuk memulai, tetapi masalah utamanya di sini adalah bahwa pelatihan harus terus dilakukan dan terus berkembang,” kata analis dan aktivis senior di National Association for Advancement of Colored People,Doug Sloan. Ini adalah sebuah kelompok hak sipil di AS.

Starbucks mengumumkan pelatihan itu pada 17 April. Ini adalah upaya Starbucks untuk menahan kemarahan publik atas penangkapan Rashon Nelson dan Donte Robinson. Starbucks meminta maaf atas insiden itu dan mengizinkan penggunaan kamar mandi gerainya untuk pelanggan yang tidak membeli.

Nelson dan Robinson meminta izin untuk menggunakan toilet sambil menunggu rekannya untuk pertemuan bisnis. Namun staf menolak, dengan alasan dia bukan pelanggan. Setelah mereka duduk untuk menunggu temannya, manajer toko memanggil polisi.

Sebuah video yang menjadi viral menunjukkan petugas berseragam memborgol kedua pria itu tanpa perlawanan. Sementara seorang rekannya yang berkulit putih berulang kali bertanya kepada seorang petugas, “Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka lakukan?”

AS telah dilanda banyak kasus diskriminasi ras baru-baru ini yang menjadi viral. Seorang siswa menelepon polisi pada Mei ketika seorang mahasiswa pascasarjana kulit hitam di Universitas Yale tertidur di ruang umum.

Awal bulan ini, seorang pria kulit hitam berusia 22 tahun dicekik oleh polisi di Waffle House di North Carolina setelah membawa saudara perempuannya ke pesta.

Perusahaan besar lainnya juga telah mengadopsi pelatihan bias rasial walaupun tidak terlalu mempublikasikan hal ini. Targetnya pelatihan semacam ini dilakukan di seluruh perusahaan.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *