kanaka.store ; Ini Waktu yang Tepat untuk Beri Anak Edukasi Seksual


Edukasi seksual positif bisa dilakukan sejak anak bisa merespons informasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memberikan edukasi seksualitas kepada anak bisa dibilang sebagai hal yang cukup rumit bagi orang tua. Di satu sisi orang tua kerap bingung bagaimana cara terbaik menyampaikannya. Tetapi di sisi lain orang tua dihantui kekhawatiran apa yang akan terjadi jika anak tahu seks sebelum waktunya.

Namun berdasarkan seksolog dan praktisi seks remaja asal Belanda, Dr Sanderijn van Der Doef, edukasi seksual positif sebaiknya dimulai sejak anak bisa memberikan respons di usia sekitar tiga tahun. Dilansir dari Channel News Asia, van Der Doef mengisahkan anaknya pertama kali bertanya tentang seks sejak melihat iklan kondom di televisi.

“Aku punya anak kembar berusia tiga tahun dan anak laki-laki berusia lima tahun. Mereka bertanya apa itu kondom dan aku memberitahu bahwa kondom dipakai orang dewasa untuk mencegah kehamilan. Itu saja,” katanya.

“Si kembar lalu kembali bermain sedangkan kakaknya bertanya bagaimana bisa kondom bisa mencegah kehamilan. Jadi aku menerangkan kondom adalah kantung yang berfungsi menampung benih dari ayah. Di usia itu, hanya sebatas itulah anak bisa memproses informasi. Hari berikutnya dia diberitahu ayahnya bagaimana mesin mobil bekerja. Jadi apa yang ia terima hanya sebatas informasi,” papar van Der Doef.

Belanda adalah negara dengan tingkat kehamilan terendah di Eropa berdasarkan penelitian The Sex Under 25 oleh Rutgers. Rutgers adalah lembaga internasional yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi remaja.

Menurut van Der Doef, hal itu tak lepas dari tingkat pengetahuan seksual yang baik di kalangan generasi muda sejak usia SD.

Van Der Doef membedakan antara edukasi seks dan edukasi seksual. Menurutnya edukasi seks adalah tentang cara manusia berhubungan badan. Sedangkan edukasi seksual berbicara soal gender, kesadaran terhadap tubuh, ranah privat, dan perbedaan budaya. Ia meyakinkan pertanyaan tentang seks yang dilontarkan anak-anak tidak akan melebihi apa yang mereka bisa pahami.

“Gunakan nama organ tubuh asli untuk menyebut alat kelamin. Jangan gunakan nama samaran seperti ‘burung’ atau ‘lebah’. Jelaskan kepada anak bahwa seksualitas adalah hal yang bersifat pribadi. Jangan katakan pada anak bahwa seks adalah sesuatu yang kotor,” terangnya.

Satu hal yang tak kalah penting adalah pastikan orang tua membicarakan edukasi seksual dalam kondisi yang tepat. “Jangan membicarakannya saat duduk berhadapan dengan anak di restoran. Lakukan sambil dibarengi kegiatan lain, seperti saat memasak bersama anak, berjalan-jalan di taman, atau duduk santai. Jangan mengulang-ulang topik yang sudah mereka ketahui,” imbuh praktisi yang terlibat dalam perumusan standar kurikulum pendidikan seks di Eropa ini. 



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *