kanaka.store – Tiwul Aneka Rasa dari Gunung Kidul


Tiwul mulai ditinggalkan di Gunung Kidul.

REPUBLIKA.CO.ID, GUNUNG KIDUL — Tiwul, makanan khas di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini diolah dengan berbagai cita rasa agar tidak ditinggalkan konsumen.

“Tiwul yang berbahan dasar singkong ini mengalami perubahan seiring tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah itu,” kata pemilik kios “Tiwul Pak Lambang” Wonosari, Agus Lambang Kristianto di Gunung Kidul, baru-baru ini.

Menurut dia, Gunung Kidul terkenal dengan makanan khasnya, yaitu tiwul. Namun, seiring tingkat kesejahteraan masyarakat yang meningkat, tiwul mulai ditinggalkan konsumennya.

“Oleh karena itu, kami terus melakukan inovasi dan modifikasi tiwul agar tetap digemari semua kalangan masyarakat,” katanya.

Ia mengatakan tiwul merupakan makanan pengganti beras. Petani hanya bisa menanam padi satu kali dalam satu tahun, karena sulitnya air sehingga petani menanami lahan tegalan dengan tanaman singkong, yang kemudian dijemur.

“Singkong yang dikeringkan diberi nama gaplek, kemudian disimpan di tempat kering dan diolah menjadi tiwul setiap membutuhkan,” katanya.

Ia mengatakan, pembuatan tiwul sangat mudah. Bahan bakunya yaitu gaplek atau singkong yang telah dikeringkan, kemudian dihaluskan menjadi tepung. Selanjutnya dikukus selama 15 menit.

Dalam proses memasak tersebut, bisa ditambahkan gula atau kelapa yang sudah diparut.

“Permintaan konsumen kebanyakan rasa gurih sehingga tiwul yang siap dimakan dapat dicampur dengan kelapa parut. Tiwul juga dapat dimasak dengan rasa manis, dengan menambahkan atau dicampuri gula merah saat dimasak,” katanya.

Seiring tumbuhnya sektor pariwisata, kata Lambang, tiwul tidak hanya satu rasa saat ini sudah berubah menjadi beberapa rasa. Ia mengolah makanan yang biasanya rasa manis diubah menjadi aneka rasa, dan langsung dibuat saat pemesanan.

Ia terus berinovasi, tiwul manis yang awalnya hanya memiliki rasa gula jawa dibuatnya memiliki enam rasa yang berbeda, mulai dari rasa kopi, nangka, pandan, hingga rasa coklat.

“Tidak ada yang mengajari saya membuat tiwul, semuanya murni coba-coba. Intinya usaha itu memang harus dimulai dari dalam hati,” katanya.

Ia mengaku seluruhnya dia tangani sendiri, seperti membuat tiwul, menyiapkan bahan baku bahkan promosi. Namun berkat pengalamanya bekerja sebagai marketing pada sebuah “leasing”, dia menguasai berbagai macam promosi yang biasa digunakan.

“Pasang ‘banner’ sendiri, ya pokoknya semuanya sendiri. Sampai ada ‘banner’ yang saya pasang pada malam, pagi sudah hilang dicuri orang,” katanya.

Lambang mengatakan, seluruh tiwul yang dijual dalam kondisi higienis dan baru. “Tiwul yang kami jual merupakan tiwul yang baru kami angkat dari atas kompor. Jangan salah, satu tiwul ini kami buat 10-15 menit saja, maka saya siapkan 16 tungku,” katanya.

Dia mengatakan, hasil produksi tidak hanya disukai warga lokal. Paduan kelapa dan tepung gaplek yang diracik secara pas berhasil memikat lidah para pejabat di lingkungan Pemkab Gunung Kidul, bahkan memiliki pelanggan dari negara tetangga yakni Malaysia.

“Kalau pelanggan dari Malaysia datang biasanya mereka betah di sini karena desain toko yang antik. Berbagai properti ini memang sengaja saya siapkan untuk menarik wisatawan,” katanya.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *