kanaka.store – Sejarawan: Kebiasaan Minum Susu Mulai Dikampanyekan 1951


Kebiasaan minum susu dikampanyekan melalui konsep Empat Sehat, Lima Sempurna.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran Fadly Rahman mengatakan kebiasaan minum susu di Indonesia dimulai oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) di bawah ahli gizi Poorwo Soedarmo pada 1951. Kebiasaan itu disebarkan melalui konsep “Empat Sehat, Lima Sempurna”.

“Soedarmo menilai susu adalah penyempurna dalam menu makan yang dikonsumsi sehari-hari. Untuk menyiarkan konsep itu, pada 1951 ia menerbitkan buku Dapur Indonesia Djaman Baru,” kata Fadly dalam sebuah lokakarya media di Jakarta, Kamis (3/5).

Berdasarkan hasil kongres Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) 1948, Soedarmo menyusun strategi penyusunan pola konsumsi sehat bagi masyarakat Indonesia, di antaranya meliputi kacang hijau, kedelai, dan susu.

Menurut Soedarmo bahan-bahan konsumsi itu sangat bermanfaat dan harus disukai segala kalangan, khususnya anak-anak. Pemikiran itu muncul setelah Soedarmo melihat kasus-kasus malnutrisi dan kelaparan hebat pada masa sulit dan peperangan di Indonesia sepanjang dasawarsa 1930-an hingga 1940-an.

“Pada masa awal kemerdekaan, susu umumnya masih dianggap oleh kebanyakan rakyat Indonesia sebagai konsumsi kaum elite. Bahkan, minum susu dianggap menaikkan status seseorang,” tutur Fadly.

Fadly mengatakan pada masa setelah perang, banyak lahan peternakan terbengkalai dan rusak sehingga produksi susu menurun tajam pada periode 1940-an hingga 1950-an.

Soedarmo lalu sempat menguji coba pembuatan susu kedelai dan kacang hijau. Soedarmo berusaha agar produk susu nabati ini dapat mencapai faidah yang setara dengan susu sapi.

Fadly menjadi salah satu narasumber dalam lokakarya media yang diadakan salah satu brand susu Indonesia di Jakarta. Selain Fadly, narasumber lainnya adalah Anggota Bidang Penelitian dan Pengembangan Gizi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Marudut dan Kepala Divisi Teknologi Hasil Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Institut Pertanian Bogor Epi Taufik.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *