kanaka.store – Kreasi Gurih Produk Bawang Goreng Malang


Bawang goreng rasa daun jeruk dan pedas menjadi varian terlaris.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG — Kreasi manusia dalam menciptakan sesuatu memang tak ada batasnya. Hal inilah yang dilakukan perempuan asli Malang, Sri Wahjuni dengan produk bawang gorengnya.

Sedari dulu, perempuan yang biasa disapa Niniek ini sangat suka mencoba memodifikasi makanan. “Dari dulu hobi bikin sesuatu yang baru, sering coba-coba misal kerupuk dijadikan apa,” ujar Niniek yang kini berusia 55 tahun ini saat ditemui Republika.co.id di Stadion Gajayana, Kota Malang.

Karena sudah terbiasa, timbul keinginan Niniek untuk berkreasi pada bawang goreng. Makanan ini memang terdengar sederhana untuk dijual, tapi tetap tak menyurutkannya untuk memodifikasi rasa. Setelah mencoba, Niniek pun berhasil menghasilkan tiga varian baru selain original.

“Ada yang bawang goreng biasa yang rasanya original dengan tambahan terasi. Terus ada rasa ebi, daun jeruk dan pedas cabai rawit,” jelas Niniek yang menetap di wilayah Sawojajar, Kota Malang ini.

Produk yang mulai dijual sejak November tahun lalu ini sebenarnya terinspirasi dari bawang goreng di Palu. Wilayah Palu terkenal dengan kenikmatan bawang gorengnya sehingga mendorong Niniek berkreasi lebih lanjut pada makanan tersebut. Semula dia ingun menyajikan rasa barbecue, tapi urung dilaksanakan karena lebih tertarik pada rasa yang lebih tradisional.

Di antara semua varian yang ada, rasa daun jeruk dan pedas yang paling diminati. Selain rasa, Niniek menilai, pembeli mungkin merasa tertarik dengan aroma daun jeruknya. Di sisi lain, dia menganggap, varian lain seperti ebi tak kalah enaknya dengan dua rasa tersebut.

“Ebi jarang sih, padahal enak juga,” kata dia.

Untuk menikmati bawang goreng dengan merek Siwang ini cukup mengeluarkan uang sekitar Rp 17.500 per bungkusnya. Produk yang satu bungkus bertakar 75 gram ini sementara dijual melalui akun media sosial. Varian bawah goreng ini dapat dibeli di akun Instagram @siwangbuninieq.

Niniek mengaku melakukan semua proses produksinya sendiri. Untuk bahan, dia mengambil bawang maupun cabai di beberapa pegangan di pasar. Saat ini, dia belum mampu bekerjasama dengan petani untuk menyediakan bawang dan cabai secara langsung.

Pembelian bawang merah dari petani maksimal harus 50 kilogram. Sementara produk Niniek masih hanya bisa memproduksi 20 kilogram per harinya. Jika memaksa beli 50 kilogram, dia khawatir bawang merah akan terbuang sia-sia karena busuk.

Niniek tak menampik, harga pangan terutama bawang merah sedang tidak bagus. Situasi ini sempat membuat Niniek berpikir untuk menaikkan harga Siwang. Namun akhirnya pikiran ini tak terjadi karena Niniek tidak ingin mengecewakan konsumennya.

Dalam sehari, Niniek setidaknya memerlukan 20 kilogram bawang merah untuk memproduksi Siwang. Satu kilogram bawang merah yang telah diolah biasanya hanya menghasilkan tiga ons. Dengan kata lain, dari 20 kilogram bawang mentah hanya mampu memproduksi enam kilogram.

Dari enam kilogram bawang goreng, akan dibagi ke dalam beberapa bungkus yang memiliki ukuran sekitar 75 gram. Besaran 20 kilogram bawang merah sendiri tak selalu terjadi setiap hari. “Kalau tidak ramai, paling kita menyediakan 10 kilogram bawang merah saja,” jelasnya.

Karena masih terbilang baru, Niniek mengaku belum bertani memproduksi secara besar-besaran. Apalagi produknya ini dilakukan bersama keluarganya sebagai industri rumahan. Kemudian sistem pembukuan produksinya juga belum berjalan dengan baik.

“Kalau pedagang anyar biasanya masalahnya ini. Omzetnya tidak selalu sama dan sekarang saya baru mulai secara bertahap untuk pembukuan pengeluaran dan keuntungannya. Kemarin-kemarin belanja belum terdeteksi besarannya berapa. Tapi setidaknya hasilnya lumayan buat tambahan sehari-hari,” tegas Niniek yang berusia 55 tahun.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *