kanaka.store ; Anak Mulai Peduli Reputasi Sejak Usia Lima Tahun


Mereka memahami pentingnya reputasi yang baik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dalam budaya yang didominasi media sosial saat ini, orang dewasa menghabiskan banyak waktu menyusun dan mengumpulkan reputasi baik secara nyata dan maya. Bahkan, penelitian terbaru menunjukkan, anak kecil pun telah mempertimbangkan reputasi mereka sejak usia lima tahun.

“Hingga baru-baru ini, pandangan konsensus dalam psikologi adalah perhitungan sosial semacam ini terlalu rumit bagi anak-anak kecil untuk terlibat,” kata mahasiswa doktor pemasaran di Wharton School of Business di University of Pennsylvania Ike Silver, dikutip dari Time, Jumat (30/3).

Dalam tulisan Silver di Trends in Cognitive Sciences dengan Alex Shaw menyatakan anak-anak mulai tampak membangun reputasi dengan mahir. Mereka memahami pentingnya reputasi yang baik dan perilaku yang diperlukan untuk mencapainya saat memasuki sekolah.

“Tampaknya benar sekitar usia lima tahun, kita mulai terlibat dalam perilaku yang membutuhkan pemecahan masalah tertentu: mampu berpikir tentang, ‘Jika orang ini melihat saya melakukan X, apa yang akan mereka simpulkan tentang saya?'” kata sisten profesor psikologi perkembangan di University of Chicago.

Penelitian Shaw telah menunjukkan anak usia lima tahun berperilaku lebih murah hati ketika mereka tahu mereka sedang diawasi. Percobaan lain baru-baru ini menemukan anak-anak berusia enam tahun bertindak dengan lebih murah hati di sekitar orang-orang yang kemungkinan akan mereka lihat lagi, dibandingkan dengan mereka yang mungkin tidak akan ditemui di masa depan.

Baik secara sadar atau tidak sadar, anak-anak mulai memikirkan reputasi sejak dini. Mereka mencoba mengelola agar mendapatkan pengakuan baik di mata orang lain. Hal tersebut memang terlihat sedikit menyeramkan dan buruk untuk kesadaran diri terlalu cepat.

Namun, Silver menyatakan, pertimbangan penilaian orang lain tentang perilaku diri ini bisa memberikan efek bagi orang lain. Sebab orang tua bisa melihat dan membaca pikiran untuk mengembangkan hubungan agar bisa menuju hal yang positif.

“Jika anak-anak terlibat dalam perilaku perisakan, satu hal yang dapat Anda lakukan secara teoritis adalah mencoba memanfaatkan motif reputasi ini dan membuat mereka berpikir itu tidak keren untuk menindas orang lain,” kata Shaw.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *