kanaka.store – Ketika Kertas dan Pensil Berubah Jadi Opor Ayam


Bersantap di restoran molecular gastronomy membawa pengalaman kuliner yang unik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Jika Anda sedang berada di restoran lalu disuguhkan kertas dan pensil, mungkin Anda mengira sedang diminta menulis pesanan makanan. Tapi di tangan Chef Andrian Ishak kertas dan pensil adalah makanan, lebih tepatnya opor ayam.

“Kertas putih itu merupakan opor ayam, sedangkan yang berwarna putihnya merupakan saus kelapa,” kata chef pemilik Namaaz Dining.

Sedangkan pensil merupakan paduan tepung dengan mentega. Untuk memakannya, cukup gulung kertas dengan pensil, kemudian dicocol ke dalam santan yang bertekstur kental itu.

Jika dilihat dari kasat mata, mungkin tidak akan percaya itu merupakan opor ayam. Namun, saat makanan sudah terkecap lidah, rasa gurih dan asin khas opor ayam akan terasa dan melekat di mulut.

Makanan mungkin pertama kali dinilai melalui tampilannya. Padahal, tampilan terkadang bisa menipu ketika Anda sudah mulai mencicipi. Konsep tersebut pun semakin kuat dengan hadirnya Molecular Gastronomy di dapur-dapur restoran.

Salah satu tempat makan di Jakarta yang menawarkan metode masak Molecular Gastronomy merupakan Namaaz Dining. Tempat yang berada di Jalan Gunawarman nomor 42, Jakarta Selatan, ini mencoba menipu penikmat kuliner dengan tampilan makanan yang berbeda.

Di samping opor ayam, menu utama yang dihidangkan Namaaz Dining lainnya pun tidak kalah unik. Contoh saja olahan tunjang, yang biasanya terlihat berwarna kuning dan besar, disulap menjadi hidangan mini nan elegan.

“Ini konsepnya memang jeroan. Makanya lapisan luarnya seperti usus yang memanjang berbentuk bulat, tapi bukan dari usus,” kata Chef Andrian.

Kreasi masakan itu seakan meleburkan bentuk tunjang menjadi hidangan mewah. Paduan sumsum, kikil, dan krecek, terasa nikmat dan kenyal saat hidangan dipotong.

Menu lainnya, merupakan kambing guling yang berupa arang-arang hitam menumpuk. Sekilas, makanan tersebut hanya berwarna hitam pekat dan tidak terlihat seperti kambing guling sama sekali.

Chef Andrian menjelaskan, konsep makanan tersebut diambil dari salah satu elemen pembuat kambing guling, yaitu arang. Daging kambing dipotong kecil, ditambahkan singkong, dan hiasan kerupuk nasi. Untuk menghasilkan warna hitam, dia menggunakan tinta cumi.

“Saya pun mencoba membuat tema supermarket dengan menggunakan QR Code, kan sekarang di supermarket banyak makanan sudah menggunakan itu,” kata Andrian. Masakan ini memperlihatkan sebuah QR Code di atas piring putih dengan di sampingnya terdapat bunga. Ternyata QR Code itupun bisa dipindai dan memperlihatkan pesan-pesan yang ingin disampaikan.

QR Code itu pun bukan sekadar pajangan saja. Ternyata itu merupakan tinta cumi, untuk diaplikasikan dengan bunga yang ternyata potongan daging cumi yang sangat empuk.

Untuk hidangan utama lain, merupakan rendang yang dibentuk seperti serundeng. Di bawahnya terdapat potongan tenderloin dengan kematangan medium yang merata di seluruh bagian.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *